"Renita Renita", sekali lagi masuk di kategori competition documentary di Amnesty International film Festival Amsterdam. Sebuah festival film dengan gengsi tinggi di wilayah Eropa. Film itu masuk kompetisi, namun kalah. Sudah seperti prediksi saya. Kenapa ?
Kenapa ? Maaf, pengalaman saya datang ke beberapa festival internasional, film film saya ternyata tidak mempunyai kualitas yang sebanding dengan karya-karya film dari teman teman di luar negeri. Kualitas film saya, jauh dibawah mereka. Dan saya tidak berharap banyak tentunya.
Kenapa ? Karena ada satu tuntutan. Ada satu tanggungjawab, juga kegilaan, tepatnya ! Saya membuat film Renita Renita hanya onedayshoot ! Mereka ? Biasanya akan menghabiskan waktu minimal 2 tahun untuk satu film. Mungkin lebih.
Saya begitu terkesan dengan sebuah film Hibakusa, yang akhirnya menyisihkan film saya untuk memperoleh grand prix award di 12 Earth Vision International Film Festival Tokyo 2003. Sekalipun saya dengan film Dream Land meraih penghargaan excellence Award. Hibakusa, dibuat dalam kurun waktu lebih dari 6 tahun. Film Dream Land saya kerjakan dalam waktu shooting hanya 2 minggu.
Lagi, saya terkesan dengan film Ghost City Soil, sebuah film dokumenter di 24th Miami International Film Festival 2007. Film itu dikerjakan dalam waktu 4 tahun, filmaker mengikuti tokoh hingga akhirnya terbunuh dalam sebuah kerusuhan di Haiti.
Saya mencoba untuk bisa membaca dan belajar dari pengalaman mereka. Mangga Golek Matang di Pohon film terbaru saya, akan saya selesaikan 2009, nanti. Saya ingin mencari sebuah pengalaman baru. Kenapa ? Katanya, pengalaman itu mahal harganya !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar