22 Mei 2008

Renita Renita di Roma, Italia

Flavio Armores, kurator dari Turino GLBT Film Festival yang memutar film Renita Renita dua bulan lalu, memberi kabar saya. Ia memohon dengan sangat, untuk bisa memutar film saya, Renita Renita, di Roma International Film Festival Juli nanti. Katanya, programmer festival itu tertarik untuk memasukan film saya di program "Transexual Village". Tak apa, pikir saya.

Sekali lagi saya bisa belajar, dan tahu bagaimana mencoba menempatkan siapapun -pembuat dokumenter itu- pada sebuah altar yang agung. Sebuah wilayah yang terkadang, sulit untuk bisa dimiliki oleh penyelenggara festival kita (baca: festival film di INDONESIA). Sederhana, nampaknya. Terkadang saya pikir, bukankah memutar dan mencamtumkannya langsung tidak soal, bukankah saya di Indonesia dan festival itu di Roma Italia ? Langsung saja diputar, tanpa permisi kepada si pembuat ?

Saya tidak terjebak bahwa, penyelenggara film festival dari luar lebih baik. Bukan orang Barat itu lebih mulia. Bukan, bukan ini maksud saya. Orang bule juga banyak yang menyebalkan, demikian, bule itu tai kata Shamir kameramen kepada saya beberapa tahun lalu. Festival asing juga banyak bohong nya, demikian kata Andi Bachtiar Yusuf dalam imel nya kepada saya.

Yang justru saya pikirkan, soal tersisanya sebuah ruang dalam diri kita, untuk belajar. Belajar menghargai. Belajar untuk menempatkan pada sebuah altar itu. Siapapun dia.


11 Mei 2008

Permohonan Maaf, teman !

(1)
saya sesungguhnya, bukan pembuat dokumenter yang pelit, untuk dimintai film untuk bisa dikopi atau dibajak sekalipun untuk tujuan pribadi, untuk festival atau untuk sekadar diputar dimanapun dalam acara apapun. Namun, kali ini, dengan jujur dan berat hati saya terpaksa membatalkan film -film saya untuk diputar di Festival Film Purbalingga. Langkah tidak memberi ijin ini saya lakukan, sudah saya pertimbangkan dengan sepenuh hati, dan dengan berat sebenarnya. Saya mengapresiasi sebuah pertumbuhan produktif. Saya sangat menyesalkan tindakan yang mengkopi film tanpa ijin. Ijin sutradaranya, alias pembuatnya. Saya tidak ingin bola panas dilemparkan ke pihak pihak yang sesungguhnya tidak berhak sama sekalipun untuk bisa memberikan film kepada siapapun, tanpa pernah memberitahu saya. Saya harap bola panas itu menjadi berhenti.

(2)
sudah saatnya kita mencoba belajar untuk menghargai sesama pembuat film. Saya hanya ingin berbagi, ternyata film saya sudah begitu banyak dipunyai, dikopi dikopi. Bagi saya tak apa. Kita bisa saling membagi pengetahuan, pengalaman dan ketrampilan dalam membuat film. Kita bisa belajar bersama sama. Pencapaian yang mungkin akan bisa didapat secara bersamaan. Namun, penghargaan kepada pembuat film lebih banyak pada kemampuan dan itikad untuk bisa belajar etika. Etika, untuk sekadar memberi tahu proses mendapatkan film, guna sebuah festival dengan segenap kepentingan, ekspos nan gemerlap.

(3)
sudah saatnya, penyelenggara festival untuk memberi ruang bagi pembuat film lainnya, jangan film film dengan sutradara yang sama. 4 film saya diputar sekaligus dalam festival. Hebat. Tetapi tidak bagi saya, lalu kemana pembuat film dokumenter lainnya. Sangat sayangkan, kenapa siapapun akan masuk dalam sebuah momentum.

(4)
saya telah memohon maaf kepada panitia Purbalingga, dan di sini saya juga mau meminta maaf kepada mereka yang akan datang ke festival itu. Silahkan film saya yang sudah terkopi, terbajak, ditonton di ruang ruang pribadi, tetapi tidak untuk festival. Saya memohon maaf, atas ketidakenakan dan kenyamanan ini. Festival mungkin akan tetap berlangsung meriah tanpa film film saya.

(5)
mari belajar saling menghargai, mari belajar etika, mungkin mahal mahal harganya

sukses untuk festival Purbalingga



6 Mei 2008

Menginspirasi penciptaan




Beberapa minggu ini, saya mencoba berpikir, mencoba untuk mengemas kembali film film lama saya, yang pernah saya buat. Film film itu, saat ini memang hanya tersimpan di lemari hangat merah ruang editing. Saya berpikir, bagaimana jika film film ini saya kemas ulang. Bukankah menjadi berguna ?
Tentu, pertanyaan ini ada benarnya dan tidak ada benarnya juga.
(1) akan sangat konstruktif untuk bisa menjawab pertanyaan pertanyaan yang acapakali muncul : dimana bisa memperoleh film film dokumenter ? Pertanyaan ini sering muncul dan mengarah ke saya, baik langsung atau via email.
(2) menjadi sia sia belaka, jika saya melihat fakta, bahwa film saya sudah mengalami copy let, dimana mana ? Teman di Manado, pernah bercerita, :"mas, saya sudah memutar film film mas Tonny di kampus kampus..... haaaa. Mengemas film menjadi sia sia, pikir saya.
Namun, saya hanya berpikir, bahwa mengemas dan menjual film tetap tidak ada salahnya. Pembuat film bisa melakukannya, hitung hitung ada yang beli, lalu dialokasikan untuk produktivitas film berikutnya. Mungkin, seperti menggiring angin, tetapi tak apalah.

Pembajakan terus berlangsung, produktivitas juga berjalan.

2 Mei 2008

Cara Berpikir

Kebanyakan seniman saat ini, sangat pragmatis. Demikian, sebuah percakapan kecil, dengan dua orang anak muda satu siang. Lantas apa yang salah ? Ada yang salah ?
Saya jadi ingat, sebuah pengalaman. Tahun 2004 saya membuat film dengan Lontar, tentang seorang novelis. Sastrawan itu, namanya Hanna Rambe.Nama yang tidak familiar, jika dibandingkan dengan Djenar Mahesa Ayu, ataupun Ayu Utami. Hanna Rambe saya film-kan. Biasa, sangat standar, lantaran ini film untuk pendidikan sastra di sekolah.
Hanna, lebih memilih atau memposisikan dirinya pada satu jalur. Jalur itu bernama : Indonesia Timur dan perempuan. Semua novelnya : Pertarungan, Mirah dari Banda dan beberapa yang lain -maaf saya lupa- ia tulis dengan setting Indonesia Timur. Untuk satu novel, ia akan menghabiskan waktu tak kurang dari 3 tahun. Saya melihat sendiri, bagaimana ia belajar tentang Indonesia Timur dari buku berbahasa Portugese dan Belanda. Sebuah perjuangan yang hebat, untuk menyajikan sebuah novel yang dalam tentunya.
Fakta berbalik, ketika dua tahun lalu hingga kini booming teenlit, chiclit. Siapapun bisa menulis dan menjadi terkenal. Dari anak anak hingga ABG siap menyangi karya karya novelis senior yang dari dulu dijerat ekonomi lantaran mengandalkan : menulis.

Dunia dokumenter ? Mungkin hampir sama. Ada begitu banyak sineas dokumenter muda berbakat penuh aksi yang telah melahirkan karya karya yang gemilang. Jujur saja, teknologi telah memanjakan kita. Segenap kemudahan telah mendorong sebuah pilihan dalam dunia yang bisa digenggam dalam waktu singkat.

Kita terlanjur menjadi serba :shortcut, dan copy paste. Ini faktanya.
Mari menjadi lebih bergairah. Bukankah ini mudah ?

24 Apr 2008

Mari belajar dari festival


Suatu siang, ketika Prana dan Latu tengah tidur siang. Saya menonton film So Close ! Ini film Hongkong penuh aksi. Dan puitis adegan action-nya haa...... Saya sangat suka. Apalagi ada lagunya ada lagunya Close to to You -nya Carpenters. Haaaa.....

Lantas tilpon rumah berdering : tulalit...! Pita, teman dari Solo menelpon. Filmnya menang di festival film air baru baru ini, lupa aku nama festivalnya. Dia dapat hadiah. Selamat, sukses kata saya. Lantas, ia ingin mengirimkan filmnya yang menang itu ke festival di Denmark.

Kita lantas sharing soal festival. Pengalaman saya, saya tidak pernah mau mengirim film ke festival yang harus mbayar ! Logika saya, saya nggak mau sudah keluar uang untuk ngirim film, harus mbayar lagi. Sementara si pemilik festival, senang : dapat uang dan dapat film. Saya seringkali mencari festival dengan tidak ada biaya mbayar pendaftaran. Sebab, saya harus berpikir soal peluang. Yang paling penting juga soal keterbatasan. Jika satu film kita daftarkan dengan minimal $30 US, plus US$ 40 untuk biaya shipping, ya nampaknya bagi pembuat film dokumenter seperti saya pasti akan keberatan. Apalagi, jika target saya satu film minimal harus terkrim ke 5-10 festival setiap tahun.

Maka saya menggunakan strategi, mencari festival yang dateline nya masih panjang. Dengan pertimbangan bisa kirim lewat kantor pos yang murah, haa.... lebih murah memang. Ini yang selalu saya coba lakukan.

Mungkin pembuat film dokumenter itu juga seperti pengrajin. Tapi tidak seperti pengrajin tahu tempe yang setiap hari laku jualannya. Saya satu tahun hanya buat maksimal 2 film. Bagaimana mungkin harus mengalokasikan 700 - 1000 dollar khusus untuk berkirim ke festival dalam satu tahun....

telpon selesai. seorang gadis cantik menembakan pistol-nya dor dor... lagu close to you kembali mengalun :

why do birds suddenly appears
everytime you are near
just like me, they long to be
close to you

why do stars fall down from the sky
everytime you walk by
just like me, they long to be
close to you.....

saya jadi ingat sebuah obrolan dengan Aryo Danusiri, 5 tahun lalu
kita harus hati hati dan selektif memilih festival, begitu dia kata !


Kalah di Festival ?


"Renita Renita", sekali lagi masuk di kategori competition documentary di Amnesty International film Festival Amsterdam. Sebuah festival film dengan gengsi tinggi di wilayah Eropa. Film itu masuk kompetisi, namun kalah. Sudah seperti prediksi saya. Kenapa ?

Kenapa ? Maaf, pengalaman saya datang ke beberapa festival internasional, film film saya ternyata tidak mempunyai kualitas yang sebanding dengan karya-karya film dari teman teman di luar negeri. Kualitas film saya, jauh dibawah mereka. Dan saya tidak berharap banyak tentunya.

Kenapa ? Karena ada satu tuntutan. Ada satu tanggungjawab, juga kegilaan, tepatnya ! Saya membuat film Renita Renita hanya onedayshoot ! Mereka ? Biasanya akan menghabiskan waktu minimal 2 tahun untuk satu film. Mungkin lebih.

Saya begitu terkesan dengan sebuah film Hibakusa, yang akhirnya menyisihkan film saya untuk memperoleh grand prix award di 12 Earth Vision International Film Festival Tokyo 2003. Sekalipun saya dengan film Dream Land meraih penghargaan excellence Award. Hibakusa, dibuat dalam kurun waktu lebih dari 6 tahun. Film Dream Land saya kerjakan dalam waktu shooting hanya 2 minggu.

Lagi, saya terkesan dengan film Ghost City Soil, sebuah film dokumenter di 24th Miami International Film Festival 2007. Film itu dikerjakan dalam waktu 4 tahun, filmaker mengikuti tokoh hingga akhirnya terbunuh dalam sebuah kerusuhan di Haiti.

Saya mencoba untuk bisa membaca dan belajar dari pengalaman mereka. Mangga Golek Matang di Pohon film terbaru saya, akan saya selesaikan 2009, nanti. Saya ingin mencari sebuah pengalaman baru. Kenapa ? Katanya, pengalaman itu mahal harganya !

Film Film Saya di Youtube

Katanya, teknologi itu diciptakan untuk membantu manusia. Saya nggak ingat siapa yang bilang seperti ini. Karena sudah ada fasilitas, maka saya mencoba memasukan film film saya di youtube. Konon, ini sebuah pasar maya ! Nggak ingat juga siapa yang bilang saya seperti ini.

Coba coba, saya masukan film film saya di youtube. Tanggapannya beragam. Pengalaman baru bagi saya. karena beberapa film ditonton oleh orang dalam jumlah banyak. Film film saya konon, ada yang bisa didownload juga. Silakan mencoba. Mari kita bertukar pengalaman, cara pandang dan pengetahuan. Silahkan mencoba.

http://www.youtube.com/profile_videos?user=trimarsanto&p=v

IN PRODUCTION

Tsunami : Gift of Life
Sam Pek Engtai ( Kasih Tak Sampai )

Renita's Journey : Mangga Golek
Merdeka atoe Mati !
Operasi Subyektivitas

My Film

  • GERABAH PLASTIK (2002), ROEDJITO (2003), HELP SPECIES DYING (2003), THE DREAM LAND (2003), I LOST MY FOREST IN ONE MINUTES (2004), THE LAST FOREST (2004), I WILL (2004), HANNA RAMBE (2004), MOTHE'S TEARS (2004), SERAMBI (2005), OUR BELOVED MOTHER (2005), HUMAN TRAFFICKING (2006), RENITA RENITA (2006), IN SHADOW OF THE FLAG (2007), SAM PEK ENGTAI (Kasih Tak Sampai- in production)

Mengenai Saya

Klaten - Jakarta pulang-pergi, Indonesia
Saya film director, fasilitator workshop film dan penulis.