
Siapa yang terdepan
Menghitung festival dokumenter di Indonesia, sungguh melegakan. Tepatnya, membanggakan. Ada banyak festival. Festival itu mencoba untuk meraih opini. Menghadirkan isu, di ruang publik. Film-film yang diputar, tentu bermacam. Ada, yang atas nama idealisme. Berdiri atas proyek, workshop. Atau atas nama pesanan NGO dan pemerintah.
Siapa yang terdepan ? Tentu, festival yang mencoba mengambil start lebih awal. Saya jadi ingat, sebuah festival tentu ingin tampil men-screening satu film yang masih fresh from oven. Alhasil, mengambil jeda waktu awal tahun, tengah tahun atau akhir tahun, tentu dilatarbelakangi oleh :siapa yang ingin terdepan. Sebab, film yang discreening di festival, ya itu-itu juga. Ini juga terjadi di festival dunia. Dengan ego, ego -nya.
Konstrutif memang adanya festival. Terutama dokumenter. Tetapi, setelah itu apa ? Yang pasti ingin mempromosikan film-film anak negri, mempublikasikannya adalah tujuan yang ingin dicapai.
Sebagai pembuat dokumenter tentu, bangga film nya di festival, apalagi di kompetisi. Seperti pengrajin, jika ada pameran, pastilah ia senang karena barang kerajinannya ditonton. Bukankah demikian ?
Tetapi, tidak cukup hanya itu tentunya. Banyak festival, dengan film yang sama. Sedikit festival, kurang juga rasanya.
Daripada melamun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar