Apakabar ? Saya saat ini tengah meng-edit film Renita, versi panjang. Judulnya : Mangga Golek Matang di Pohon. Sejak bulan November tahun lalu saya mulai meng-capture, membuat shoot report dan meng-editnya.
Sampai awal April ini, sudah 115 menit durasinya. Saya belum yakin film ini selesai karena masih 25% kaset yang belum tercapture, dari 81 jam kaset master shoot.
Saya tak yakin dengan apa yang telah saya edit. Saya tilpon Elida Tamalagi, yang terkenal itu yang punya KINOKI Yogyakarta. Saya minta, Elida untuk menonton.
Elidapun berkomentar "Sedih. Dan ini lompatan dari karya karya mas sebelumnya !"
Saya belum yakin lagi. Saya kedatangan tamu dari Makasar. Arfan, yang menang di kompetisi Eagle Award dari film Suster Apung. Ia datang bersama Dany Cublux, yang sebelumnya sering meng-edit film saya. Komentar mereka berdua: "Tidak membosankan. Dan nanti endingnya kayak apa mas ?" Arfan dan Dany penasaran dengan ending film saya.
Tak lama kemudian datang mentor dan dosen UI, Rhino (Inyoo) ke rumah. Ia kasih masukan, "Kok aneh. Gini jadinya. Haaa....." Mungkin butuh funding untuk bisa memblow up isunya. Kata teman karib ini.
Beberapa hari kemudian, ada Esha Kardus dari Studio 19 ISI Surakarta. Ia kaget dengan gambarnya. "Kok kaya gini ? Kurang ini kameranya. Nggak di colour bar ya !" Semua berbau teknis ia katakan. Saya berdalih. Ini film tanpa kameramen, karena nggak mampu saya membayar mereka. Jadi saya kerjakan sendiri. Mulai dari desain ide, kamera operator hingga editing. Ini bukan rezim teknis. Ini Rezim cerita. Begitu yang saya percayai saat ini. Saat kepepet, maksudnya.
Kemudian, pemenang Eagle Award Yuli Andari dengan film Joki Kecil, juga main ke rumah. Komentarnya sederhana: "Sedih banget ! Tapi jangan dipakai untuk materi workshop lo mas ! Entar pesertanya pusing melihat struktur dan gaya bertutur yang tak lasim ini !"
Saya menjadi lega. Saya butuh kontrol, dalam menyelesaikan film Mangga Golek Matang di Pohon ini. Mereka adalah teman teman. Yang memberi kontribusi bagi pencapaian film saya.
Saya sangat berteimakasih dengan masukan mereka.
Saya senang mempunyai teman, yang mau mengontrol pencapaian.
Yang pasti mungkin ini film terpanjang saya. Bisa 2 hingga 3 jam. Saya mencoba mengerjakannya lagi saat ini.
31 Mar 2008
20 Nov 2007
Festival Festival

Siapa yang terdepan
Menghitung festival dokumenter di Indonesia, sungguh melegakan. Tepatnya, membanggakan. Ada banyak festival. Festival itu mencoba untuk meraih opini. Menghadirkan isu, di ruang publik. Film-film yang diputar, tentu bermacam. Ada, yang atas nama idealisme. Berdiri atas proyek, workshop. Atau atas nama pesanan NGO dan pemerintah.
Siapa yang terdepan ? Tentu, festival yang mencoba mengambil start lebih awal. Saya jadi ingat, sebuah festival tentu ingin tampil men-screening satu film yang masih fresh from oven. Alhasil, mengambil jeda waktu awal tahun, tengah tahun atau akhir tahun, tentu dilatarbelakangi oleh :siapa yang ingin terdepan. Sebab, film yang discreening di festival, ya itu-itu juga. Ini juga terjadi di festival dunia. Dengan ego, ego -nya.
Konstrutif memang adanya festival. Terutama dokumenter. Tetapi, setelah itu apa ? Yang pasti ingin mempromosikan film-film anak negri, mempublikasikannya adalah tujuan yang ingin dicapai.
Sebagai pembuat dokumenter tentu, bangga film nya di festival, apalagi di kompetisi. Seperti pengrajin, jika ada pameran, pastilah ia senang karena barang kerajinannya ditonton. Bukankah demikian ?
Tetapi, tidak cukup hanya itu tentunya. Banyak festival, dengan film yang sama. Sedikit festival, kurang juga rasanya.
Daripada melamun.
7 Nov 2007
Kemas Film !

Mari menjual film !
Seorang Elida, -yang mengagumi penyanyi Nicky Astria - teman saya, pernah bertanya. Kenapa tidak mengemas film dokumenter yang pernah dibuat ? Bukankah itu menjadi penting ?
Saya mencoba memikirkan beberapa saat. Mungkin persoalannya menjadi tidak mudah. Lantaran, kebanyakan dari kita memproduksi film tidak dengan uang sendiri, alias ada ndoro funding-nya. Ini persoalan. Saya harus menjelaskan ke NGO, atau PH yang pernah mengontrak saya. Saya mencobanya. Tetapi ternyata semuanya menjadi : tidak masalah.
Mengemas film, menjadi menarik, memang tidak sekadar meng-kopi film film itu. Lalu membuatkan cover-nya. Merancang strategi promosinya. Tetapi, mengemas film, lebih banyak berkait dengan produk dan sebuah proses yang dilaluinya. Kenapa menjadi penting, sebuah film yang dikemas butuh making of-nya ! Atau lebih jauh ada buku yang menjadi bahan pembelajaran dari siapapun yang tertarik pada film itu.
Bagi pembuat film dokumenter, tentu bukan hal yang biasa. Membuat making of - nya, apalagi melampirkan cerita singkat dari proses itu. Lebih menakjubkan jika ada buku "pegangan proses-nya ".
Tentu. Ini tantangan kita. Mari mencoba. Saya juga tengah mencoba.
mencoba merdeka ...dan selalu punya ide !
30 Okt 2007
Dokumenter ber-sastra
NGO atau teks-sastra ?
Pembuat film dokumenter itu, konon, hidupnya dari membuat film pesanan. Terutama film film NGO. Mungkin demikian. Tepatnya, pembuat film dokumenter senantiasa hidup dari film-film pesanan.
Satu hal yang seringkali berbenturan adalah, film itu pada akhirnya kehilangan ruang estetikanya. Ketika film senantiasa patuh pada ide-ide advokatif, maka ia terasa kering kreativitas. Ibarat buku, tak ubahnya buku instruksional. Bukan sebuah teks kreatif, yang bisa melakukan penjelajahan bagi terbukanya ruang resepsi kognitif dan estetik.
Pada akhirnya, pembuat film dokumenter akan mengkalkulasi. Macam apa film yang berhasil dikerjakannya. Film telah kehilangan ketrapilan dalam memainkan perannya. Film tak lagi menjadi sebuah teks yang enak ditonton.
Fakta film film NGO semacam ini.
Pembuat film dokumenter itu, konon, hidupnya dari membuat film pesanan. Terutama film film NGO. Mungkin demikian. Tepatnya, pembuat film dokumenter senantiasa hidup dari film-film pesanan.
Satu hal yang seringkali berbenturan adalah, film itu pada akhirnya kehilangan ruang estetikanya. Ketika film senantiasa patuh pada ide-ide advokatif, maka ia terasa kering kreativitas. Ibarat buku, tak ubahnya buku instruksional. Bukan sebuah teks kreatif, yang bisa melakukan penjelajahan bagi terbukanya ruang resepsi kognitif dan estetik.
Pada akhirnya, pembuat film dokumenter akan mengkalkulasi. Macam apa film yang berhasil dikerjakannya. Film telah kehilangan ketrapilan dalam memainkan perannya. Film tak lagi menjadi sebuah teks yang enak ditonton.
Fakta film film NGO semacam ini.
29 Okt 2007
Film Baru
Apa yang baru !
Seorang teman sms saya, bunyinya : "mas Menggiring Angin itu film tentang apa ?"
dengan bercanda saya jawab : "itu film tentang orang masuk angin, dan bagaimana mengeluarkan angin !"
Sebuah pertanyaan yang membuat saya kaget. Ya menjadi bertanya. Ternyata ada orang yang peduli dengan apa yang terus menerus saya kerjakan : sendiri, di pinggir sawah rumah saya. Tentu, menggembirakan. Ternyata keingintahuan akan produktivitas kreatif, masih tinggi. Bahkan keingintahuan itu harus saya punyai. Apa yang tengah dikerjakan teman-teman pembuat dokumenter.
Apa yang baru. Tak ubahnya kita mencoba ingin menemukan sebuah ruang pencapaian yang berbeda. Berbeda, beda yang pembuat sendiri tentunya sadar akan kekuatan film itu. Pada orang lain, saya terkadang melihat bahwa kebanyakan film dokumenter kita masih berdiri dengan wajah LSM yang memesannya. Harus demikian. Menjadi anak yang baik jika kita mengerjakan film untuk klien. Namun keinginan untuk mencoba lain, tetap haruis saya pelihara.
Seorang teman sms saya, bunyinya : "mas Menggiring Angin itu film tentang apa ?"
dengan bercanda saya jawab : "itu film tentang orang masuk angin, dan bagaimana mengeluarkan angin !"
Sebuah pertanyaan yang membuat saya kaget. Ya menjadi bertanya. Ternyata ada orang yang peduli dengan apa yang terus menerus saya kerjakan : sendiri, di pinggir sawah rumah saya. Tentu, menggembirakan. Ternyata keingintahuan akan produktivitas kreatif, masih tinggi. Bahkan keingintahuan itu harus saya punyai. Apa yang tengah dikerjakan teman-teman pembuat dokumenter.
Apa yang baru. Tak ubahnya kita mencoba ingin menemukan sebuah ruang pencapaian yang berbeda. Berbeda, beda yang pembuat sendiri tentunya sadar akan kekuatan film itu. Pada orang lain, saya terkadang melihat bahwa kebanyakan film dokumenter kita masih berdiri dengan wajah LSM yang memesannya. Harus demikian. Menjadi anak yang baik jika kita mengerjakan film untuk klien. Namun keinginan untuk mencoba lain, tetap haruis saya pelihara.
Shootreport
Mangga Golek
apa yang anda bayangkan jika setiap hari harus melihat 'transeksual' dengan segenap aspek kegiatannya ?
saya memang telah memulai membuat shoot report 77 kaset Renita mudik.
melelahkan, namun membuat penasaran.
kenapa ?
saya ingin sekali segera mengetahui gambar dan suara-suara apa saja yang telah terekam dengan clear secara suara, menawan secara gambar. saya menyadari keterbatasan saya. ada kemampuan teknis yang minim, sekaligus menjadi sebuah bahan pembelajaran : bagaimana sulitnya menjadi kamera person.
butuh kesabaran, ternyata, jika anda ingin dapat perisitiwa yang kuat
selama 1 bulan saya baru menyelesaikan shootreport 10 kaset
bagi saya ini melelahkan, tak apalah
peristiwa peristiwa mulai saya seleksi, dengan pertimbangan teknis dan kemampuan konflik yang ada di dalamnya
ini butuh waktu, kehati-hatian nampaknya
apa yang anda bayangkan jika setiap hari harus melihat 'transeksual' dengan segenap aspek kegiatannya ?
saya memang telah memulai membuat shoot report 77 kaset Renita mudik.
melelahkan, namun membuat penasaran.
kenapa ?
saya ingin sekali segera mengetahui gambar dan suara-suara apa saja yang telah terekam dengan clear secara suara, menawan secara gambar. saya menyadari keterbatasan saya. ada kemampuan teknis yang minim, sekaligus menjadi sebuah bahan pembelajaran : bagaimana sulitnya menjadi kamera person.
butuh kesabaran, ternyata, jika anda ingin dapat perisitiwa yang kuat
selama 1 bulan saya baru menyelesaikan shootreport 10 kaset
bagi saya ini melelahkan, tak apalah
peristiwa peristiwa mulai saya seleksi, dengan pertimbangan teknis dan kemampuan konflik yang ada di dalamnya
ini butuh waktu, kehati-hatian nampaknya
23 Okt 2007
Renita's Journey
Mangga Golek
Saya lega. Jelas. Pasti ! Kenapa ?
Saya baru saja menyelesaikan film baru tentang sosok Renita. Renita pulang kampung, mudik. Ke Donggala, tepatnya. Desa Pulu. Lebih dari 40km dari kota Donggala, Pulu menjadi desa terpencil : dengan keunikannya sebagai desa miskin, namun subur.
Perjalanan, saya tempuh dengan kapal laut. Berlayar dari Tanjung Priok, Surabaya, Balikpapan, dan Palu. Cukup melelahkan memang. Lantas, apa yang saya dapatkan ? Ternyata ada banyak hal. Banyak keunikan yang terekam. Saya berangkat hanya berdua, dengan Siwi yang membantu mengangkat tripod. Maaf, dengan biaya kecil, saya tidak mungkin meminta tolong seorang kameramen profesional, dengan lama shooting 21 hari lebi. Mau dibayar dengan apa. Kilahnya, dengan dana minim, saya mencoba untuk survive. Minta sponsor. Tapi bukan uang. Seorang Shanty Harmayn dengan baik hati, lembut dan bijaksana merelakan kamera PD 170 untuk memproduksi film ini.
ada keyakinan. Ini bukan rezim gambar. Ini rezim cerita. Rezim peristiwa. Ini apologi untuk menutupi ketidakmampuan saya dalam memegang kamera, plus dihimpit oleh dana yang terbatas. Bukankah demikian ?
Namun, saya telah merekam Renita yang unik itu dalam 77 kaset MiniDV.
Selesai melakukan perjalanan dengan Renita, saya kembali harus bekerja untuk membuat shootreport dari 77 kaset itu.
Mangga Golek, Tulenda, atau Renita's Journey ini alternatif judul yang mengganggu saya.
yang pasti, cukup melegakan, dan 2009 adalah target-nya !
Saya lega. Jelas. Pasti ! Kenapa ?
Saya baru saja menyelesaikan film baru tentang sosok Renita. Renita pulang kampung, mudik. Ke Donggala, tepatnya. Desa Pulu. Lebih dari 40km dari kota Donggala, Pulu menjadi desa terpencil : dengan keunikannya sebagai desa miskin, namun subur.
Perjalanan, saya tempuh dengan kapal laut. Berlayar dari Tanjung Priok, Surabaya, Balikpapan, dan Palu. Cukup melelahkan memang. Lantas, apa yang saya dapatkan ? Ternyata ada banyak hal. Banyak keunikan yang terekam. Saya berangkat hanya berdua, dengan Siwi yang membantu mengangkat tripod. Maaf, dengan biaya kecil, saya tidak mungkin meminta tolong seorang kameramen profesional, dengan lama shooting 21 hari lebi. Mau dibayar dengan apa. Kilahnya, dengan dana minim, saya mencoba untuk survive. Minta sponsor. Tapi bukan uang. Seorang Shanty Harmayn dengan baik hati, lembut dan bijaksana merelakan kamera PD 170 untuk memproduksi film ini.
ada keyakinan. Ini bukan rezim gambar. Ini rezim cerita. Rezim peristiwa. Ini apologi untuk menutupi ketidakmampuan saya dalam memegang kamera, plus dihimpit oleh dana yang terbatas. Bukankah demikian ?
Namun, saya telah merekam Renita yang unik itu dalam 77 kaset MiniDV.
Selesai melakukan perjalanan dengan Renita, saya kembali harus bekerja untuk membuat shootreport dari 77 kaset itu.
Mangga Golek, Tulenda, atau Renita's Journey ini alternatif judul yang mengganggu saya.
yang pasti, cukup melegakan, dan 2009 adalah target-nya !
IN PRODUCTION
Tsunami : Gift of Life
Sam Pek Engtai ( Kasih Tak Sampai )
Renita's Journey : Mangga Golek
Merdeka atoe Mati !
Operasi Subyektivitas
Sam Pek Engtai ( Kasih Tak Sampai )
Renita's Journey : Mangga Golek
Merdeka atoe Mati !
Operasi Subyektivitas
My Film
- GERABAH PLASTIK (2002), ROEDJITO (2003), HELP SPECIES DYING (2003), THE DREAM LAND (2003), I LOST MY FOREST IN ONE MINUTES (2004), THE LAST FOREST (2004), I WILL (2004), HANNA RAMBE (2004), MOTHE'S TEARS (2004), SERAMBI (2005), OUR BELOVED MOTHER (2005), HUMAN TRAFFICKING (2006), RENITA RENITA (2006), IN SHADOW OF THE FLAG (2007), SAM PEK ENGTAI (Kasih Tak Sampai- in production)
Arsip Blog
Mengenai Saya
- Sambil Berjalan
- Klaten - Jakarta pulang-pergi, Indonesia
- Saya film director, fasilitator workshop film dan penulis.